Yang Terbaik adalah Yang Terjadi

Tetiba, aku terarahkan untuk membaca suatu manhwa yang berjudul Do It One More Time. Ceritanya agak klise sih. Tentang sepasang suami istri yang saling membenci dan menyesal telah menikah selama 8 tahun. Lalu suatu hari mereka terbangun dan kembali ke 10 tahun yang lalu yang disebut juga time slip.

Lalu aku membayangkan, bagaimana kalau aku mengalami time slip juga. Wah, dari zaman SD saya bisa ranking 1 terus. Bakal juara banyak lomba. Tau investasi di mana saja. Bisa macarin cewe eksis di sekolah.

Tapi, sesungguhnya diri ini terdefinisikan dari semua kesalahan, kegagalan, dan keberhasilan yang sudah terjadi.

  • Waktu SD sering kabur main PS, jadi cikal bakal suka main game, pernah passion bikin game, dan jadi programmer
  • Selama sekolah ngga pernah ranking (pernah sih 3x 10 besar), membiasakan supaya tidak sombong
  • Seringkali kesal dan marah terhadap kehidupan, membuat sering bepergian naik sepeda dan melatih otak untuk berpikir bebas
  • Selalu pengen pacaran tapi ngga pernah punya pacar (hell, bahkan ga berani nembak 😂) menjadikan diri ini agak jauh dari maksiat
  • Akhir-akhir ini gagal terus menggaet wanita untuk menjadi istri, menjadikan tahu bagaimana memperlakukan wanita
  • Hidup di keluarga yang ngga begitu privileged dan banyak dinamika, memberikan arti apa itu keluarga dan perjuangan
  • Punya banyak masalah, ngga bisa nanganin sendiri, dan ngga berhasil nyelesain juga… menjadikan diri ini agak soleh dikit dan mengenal agama

Jadi, alhamdulillah saya bersyukur atas semua kegagalan, kesialan, dan kemalangan diri ini karena saya yakit itulah hal yang terbaik. Yang bisa mendefinisikan siapa diri ini. Otherwise, kalau hal-hal tersebut ngga terjadi bisa aja Irfan Kamil yang sekarang itu ngga ada. Mungkin cuma orang-orang medioker pada umumnya (Woi, siapa juga yang bilang sekarang ngga medioker 😂)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *