Indikator Kebangkitan Islam

Menurut salah satu hadis sahih, salah satu indikator kebangkitan islam adalah sholat subuh yang seperti sholat jum’at.

Perlu diakui bahwa gerakan subuh berjamaan nasional, follow up dari gerakan 212 memperlihatkan hasil yang remarkable. Masjid yang diadakan acara-nya penuh sekali sampai tumpah-tumpah..

Tapi, kalau kita lihat statistik. Misalkan dalam satu kota ada 4.000 masjid + mushola, dan 1.500 diantaranya adalah masjid jami (yang bisa dipenuhi minimal 40 orang). Kalau hari tertentu pada event tertentu, bisa ada 10 masjid yang penuh. Berarti baru 10 / 1.500 atau sekitar 0,67%. Kalau tidak ada event, ya jumlah saf di masjid besar pun tidaklah seberapa.

Bagaimana kalau tidak ada event tersebut? Sebenarnya, kurang lebih orang yang ikut event tersebut sebenarnya sehari-hari sholat subuh di masjid masing2 dekat rumahnya. Hal ini bisa jadi bagus kalau semangat subuh berjamaah ini ditularkan ke tetangga / orang sekitar dari masing-masing yang sudah sholat subuh di masjid berjamaah.

Itung-itungannya, supaya bisa 100% tercapai, masing-masing orang mengajak 150 tetangga sekitarnya untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Dan kalau dipertimbangkan probabilitas overlap dengan rata-rata 1 orang diingatkan oleh 3 orang, berarti mengajak-nya perlu ke 450 orang.

Banyak juga dah 😅

Tapi coba kita itung-itungan real-nya gimana.

Rata-rata, orang di media sosial punya friend 300 orang. Kontak HP ada 500 orang. Dan reach grup whatsapp bisa sampai 1000 anggota. Kalaulah channel ini dimaksimalkan, ya apalah yang tidak mungkin.

Kalau mau geriliya nggedor pintu orang silaturahim, jika sehari bisa ngegedor 3 pintu, perlu 50 hari untuk menggedor 150 rumah, dengan perkiraan 1 rumah rata-rata berisi 3 orang. Tapi ya cara ini butuh keberanian, karisma, kelihaian, kemampuan memengaruhi, dan mental yang kuat.

Sesulit apapun kondisinya, apalah yang tidak mungkin. Yang penting kita sudah berusaha berada di pihak yang saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran.

Zakat di Badan Amil Zakat Bandung

Pada suatu hari, saya hendak membayar zakat mal. Saya pun pergi ke BAZ Bandung yang ada di Masjid Al-Ukhuwah lantai 3.

Saya pun membayarkan Zakat dan Sedekah. Jumlahnya tidak sebeberapa sih, tapi buat anak SMA bayar zakat mal itu mungkin suatu pencilan tersendiri.

Saya pun diterima oleh Pak Didin Hafidhuddin, selaku Ketua BAZNAS pada saat itu.

Dan yang jadi pertanyaan adalah “Ini bukan dari jualan porno” kan?

Pada saat itu, saya sedikit merasa tersinggung, tapi pengen banyak ketawa juga :)) (cuman takut gak sopan, jadi senyum2 aja)

Setelah sekian lama, saya baru sadar. Pesan yang saya tangkap dari pertanyaan beliau adalah, harta yang diperoleh dengan cara haram tetap saja haram walaupun dizakatkan juga. Dan sudah pasti kalau zakat dari harta haram tidaklah sah.