rss search

next page next page close

Hukum Belajar dalam Islam

Hukum Belajar dalam Islam

Hukum belajar ilmu agama yg syumul itu fardhu ain, wajib belajar bagi setiap orang. Tapi ia tak masuk sistem. Media terdekat untuk mempelajarinya skrg difasilitasi kantong2 mentoring. Tetap saja. Bukan hal wajib. Ia menjadi pilihan kegiatan. Umat Islam di negeri ini kalah secara sistem, bahkan untuk memelajari ilmu agamanya sendiri. Ditambah lagi, universitas berlabel Islam yg seharusnya meluluskan cendikiawan Islam malah bnyk diracuni ide sesat liberal dn pluralisme. Kata-katanya adalah Islam menjadi minoritas dalam mayoritasnya muslim di negeri ini.

Belajar Islam tidak melulu membuatmu jadi kiai. Tapi belajar Islam menjadikanmu sebenar-benar manusia yang benar. Islam menjadikan seorg teknokrat berjuang utk kejayaan bangsa dan agamanya. Menjaganya utk tetap idealis karena yg ia incar adalah akhirat. Islam mnjadikn dokter pnh dedikasi, bkn krn materi atw ucpn trma ksih. Krn dg itu ia bisa bermanfaat hgga dg itu ia dpt mncium wngi surga. Islam pun mnjdkn birokrat tegas mneriakkan kbnaran dalam sendunya kesalahan massal. Krn pegangannya bukanlah dunia, tapi Allah semata.

Islam mnyempurnakn pandangan manusia thd dunia dan tujuan hidup apapun peran dan profesinya. Sayangnya belajar hal yg menjadi ruh kehidupan ini kalah dg wajibnya menuntut pendidikan ilmu umum. Blajar ilmu umum hukumnya fardhu kifayah. Artinya bla sdh ada sbgian org yg mnuntutnyam, org lain lepas kwjbn dn boleh mnuntut ilmu yg lain.

tweet by @anggakdinata

next page next page close

Antara Cinta dan Es Krim

Antara Cinta dan Es Krim

Beberapa hari yang lalu ada seorang sahabat saya menanyakan tentang cinta kepada saya. Saat itu saya sedang tidak mau membicarakan cinta karena merasa ada hal yang lebih penting dibicarakan.Sore ini saya diingatkan kembali oleh sahabat saya tentang 3 hal yang membunuh karakter seorang aktivis dakwah: Rasa takut, keragu-raguan, dan syahwat. Kalo bicara soal Syahwat pastilah berhubungan dengan cinta dan vmj (virus merah jambu). Alhamdulillah selama saya berperan sebagai aktivis dakwah (ngakunya) belum pernah saya terjangkit penyakit vmj, dan jangan sampe pernah terjangkit. Bukan karena amalan saya yang banyak, sungguh masih banyak yang harus saya perbaiki di diri saya. Tapi bukan juga berarti saya ga normal (ga suka ma cowok), sumpah saya masih suka ma cowok apalagi yang baik, ganteng, sholeh, pokona mah yang perfect. Yang saya lakukan hanyalah hal yang sederhana, tegas pada hati dan diri sendiri.

Ga ada yang salah sama cinta, yang salah adalah cara kita merespon perasaan itu. Kalo di ibaratkan kita lagi shaum di bulan ramadhan, terus ada yang mendadak memberi kita eskrim pada siang hari. Orang yang memberi maupun eskrim itu ga salah kan? Nah, sekarang tinggal bagaimana sikap kita ke es krim itu. Kalo kita langsung makan pas orang itu ngasih (di siang hari), maka kita cuma dapet dosa dan shaumnya otomatis batal. Kalo kita memutuskan untuk memakannya saat berbuka tapi eskrim itu selalu kita bawa kemana-mana atau tidak disimpan dengan benar, maka saat kita memakan eskrim saat berbuka tentu saja tidak enak karena sudah dipastikan akan cair dan tidak enak lagi untuk dimakan. Kalo kita taro/simpen eskrim itu di lemari es, tapi kita kita membuka pintu lemari es agar memastikan tidak ada orang lain yang mengambilnya, otomatis juga bekunya ga akan maksimal, pastinya eskrim agak sedikit meleleh, ga akan nikmatlah kalo dimakan pas buka shaum. Nah, berbeda kalo kita simpan eskrim itu di lemari es, dengan suhu yang pas, lalu lemari es itu kita tutup dan sambil menunggu waktu buka shaum kita melakukan hal yang bermanfaat. Pas waktunya buka shaum, kita buka deh lemari esnya dan bisa menikmati eskrim tersebut. Gimana kalo eskrimnya udah ga ada? Mungkin dimakan duluan ma orang lain atau yang punyanya mengambilnya kembali? Itu berarti eskrim itu bukan rejeki kita. Disinilah prasangka baik kita digunakan. Akan ada menu buka shaum yang lebih nikmat yang akan diberikan oleh Allah.

Ya, itulah pikiran sederhana saya tentang cinta. Sebenarnya pikiran ini saya dapatkan saat saya mentoring klasikal kampus yang dibawakan oleh ustad Hipni Mubarok (kalo ga salah) tapi beliau mengibaratkan cinta itu brownis, berhubung saya suka eskrim makanya saya analogikan cinta itu adalah eskrim. Semenjak mendengar ceramah dari itu, pemikiran sederhana itu sangat membawa pengaruh besar pada kehidupan saya. Semenjak itu pula saya bisa memanage hati saya. Dan saya harap, siapapun yang membaca tulisan ini juga terbuka pikirannya.

Artikel ini merupakan repost dari blog ini oleh teh Yuli Jannaini. Pandangan saya, hal ini cukup menggambarkan kondisi dan perilaku ABG saat ini. Jadi, bagi yang merasa galau dan belum mantap hatinya, segera pilihlah jalan Allah yang lurus :)

next page next page close

Pacaran yang Syar’i, Mungkinkah???

Pacaran yang Syar’i, Mungkinkah???

Diambil dari Rubrik “Ustadz Menjawab” (www.eramuslim.com) yang diasuh oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.

Pertanyaan:

Assalamualaikum.
Pak ustadz, saya mau nanya sebenarnya boleh gak sih pacaran itu? Soalnya temen-temen saya pada bilang tergantung niatnya. Terima kasih atas perhatiannya.
Assalamualaikum,

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Bukan tergantung niatnya, tapi tergantung caranya. Kalau niatnya, pastilah semuanya berniat baik-baik. Namun yang menjadi masalah justru pada caranya. Katakanlah niatnya baik, yaitu untuk dijadikan ajang penjajakan atau saling kenal satu sama lain, menuju ke jenjang berikutnya yaitu perkawinan. Nah, niat yang seperti ini sebenarnya bisa diterima secara syariah.

Memang di dalam syariah Islam, sebelum seseorang menetapkan calon pasangan hidup, ada anjuran untuk melakukan penjajakan. Agar terjadi saling kenal dan saling paham, antara calon suami dan calon istri. Hal seperti ini tidak dilarang dalam Islam, bahkan sebaliknya, justru amat dianjurkan.

Sebab dahulu ada seorang shahabat yang bercerita bahwa dalam waktu dekat akan dia akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita. Ketika Rasulullah SAW menanyakan apakah dia sudah mengenal calon istrinya, shahabat itu mengatakan belum. Maka Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mendatangi wanita itu, untuk mengenal lebih dalam, sebelum memastikan pernikahannya.

Jadi dari sisi tujuan, sebenarnya sudah benar, yaitu bila tujuannya untuk saling mengenal (ta’aruf). Tinggal bagaimana teknisnya, itulah yang justru menjadi batas halal dan haramnya.

Kalau teknisnya adalah dengan jalan-jalan berdua, naik motor boncengan bersama, bergandengan, berpelukan, kencan makan malam berdua di tempat romantis, atau bahkan sampai liburan berdua, menginap di hotel (chek in) dan yang sejenisnya, tentu saja haram. Bahkan sekedar apel atau wakuncar sekalipun tetap haram, jika mereka melakukannya hanya berdua saja, tanpa ada kehadiran mahramnya. Meski niatnya baik, tapi bila caranya haram, maka pacaran itu hukumnya haram.

Lalu bagaimana yang halal?

Minimal tidak terjadi khalwat (berduaan), sebab yang ketiganya adalah syetan. Sebagaimana telah dilarang oleh Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan wanita kecuali bersama mahram” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan wanita kecuali yang ketiganya adalah syetan.” (HR Tirmizy)

Maka kalau mau pacaran, selain masalah niat harus suci, pastikan tidak ada acara berdua-duaan. Pacaran harus ditemani langsung oleh ayah si gadis. Atau saudara laki-lakinya atau siapapun yang menjadi mahramnya.

Kalau berdua-duaan saja sudah haram, apalagi sentuhan tangan, baik untuk bersalaman, atau pun berpegangan tangan, berpelukan atau pun mengenggam jari pasangannya.

Dan yang lebih penting dari semua itu, masing-masing tetap wajib menutup aurat sesuai dengan aturan syariah. Yang wanita wajib memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Pakaian itu harus lebar, tidak mencetak lekuk tubuh, tidak tipis atau transparan, juga tidak memakai wewangian yang mengundang nafsu seorang laki-laki. Tidak menggunakan make berlebihan pun yang juga bisa mengundang daya tarik calon suami, sebab biar bagaimana pun mereka masih orang asing, tidak halal hukumnya, kecuali setelah terjadinya akad nikah yang sah.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ahzab: 59)

Bila masing-masing pihak telah merasa cocok, sebaiknya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk segera menikah. Sebab selama masa menunggu itu, syetan tetap saja mengintai dan mencari serta mencuri-curi kesempatan untuk masuk ke celah-celah yang rawan. Kalau memang tidak ada alasan yang telalu syar’i, semakin cepat ke hari pernikahan akan semakin baik. Jangan biarkan relung hati disusupi dan disisipi iblis laknatullah.

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

next page next page close

Jadikan Sholat dan Sabar Sebagai Penolongmu

Jadikan Sholat dan Sabar Sebagai Penolongmu

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Ibnu Katsir menjelaskan satu prinsip dan kaidah dalam memahami Al-Qur’an berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat Al-Qur’an, langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya mereka yang mau dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari Kitabullah. Maka peristiwa yang diceritakan Allah Taala tentang Bani Israel, terkandung di dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Begitulah kaidah dalam setiap ayat Al-Qur’an sehingga kita bisa mengambil bagian dari setiap ayat Allah swt. “Al-Ibratu Bi’umumil Lafzhi La Bikhusus sabab” (Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami Al-Qur’an adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya”.

Perintah dalam ayat di atas sekaligus merupakan solusi agar umat secara kolektif bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Kedua hal ini merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah saw selaku uswah hasanah, telah memberi contoh yang konkrit dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Rasulullah saw apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan shalat“.

Huzaifah bin Yaman menuturkan, “Pada malam berlangsungnya perang Ahzab, saya menemui Rasulullah saw, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Bila beliau menghadapi persoalan, maka beliau akan mengerjakan shalat“. Bahkan Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan Rasulullah saw pada perang Badar, “Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami tertidur kecuali Rasulullah, beliau shalat dan berdo’a sampai pagi“.

Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan sahabat Rasulullah saw terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan shalat dua raka’at dengan melamakan duduk. Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“.

Secara khusus untuk orang-orang yang beriman, perintah menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153). Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.
Masih dalam konteks orang yang beriman, sikap sabar yang harus selalu diwujudkan adalah dalam rangka menjalankan perintah-perintah Allah Taala, karena beban berat yang ditanggungnya akan terasa ringan jika diiringi dengan sabar dan shalat. Ibnul Qayyim mengkategorikan sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah Taala termasuk sabar yang paling tinggi nilainya dibandingkan dengan sabar dalam menghadapi musibah dan persoalan hidup.

Syekh Sa’id Hawa menjelaskan dalam tafsirnya, Asas fit Tafasir kenapa sabar dan shalat sangat tepat untuk dijadikan sarana meminta pertolongan kepada Allah Taala. Beliau mengungkapkan bahwa sabar dapat mendatangkan berbagai kebaikan, sedangkan shalat dapat mencegah dari berbagai perilaku keji dan munkar, disamping juga shalat dapat memberi ketenangan dan kedamaian hati. Keduanya (sabar dan shalat) digandengkan dalam kedua ayat tersebut dan tidak dipisahkan, karena sabar tidak sempurna tanpa shalat, demikian juga shalat tidak sempurna tanpa diiringi dengan kesabaran. Mengerjakan shalat dengan sempurna menuntut kesabaran dan kesabaran dapat terlihat dalam shalat seseorang.

Lebih rinci, syekh Sa’id Hawa menjelaskan sarana lain yang terkait dengan sabar dan shalat yang bisa dijadikan penolong. Puasa termasuk ke dalam perintah meminta tolong dengan kesabaran karena puasa adalah separuh dari kesabaran. Sedangkan membaca Al-Fatihah dan doa termasuk ke dalam perintah untuk meminta tolong dengan shalat karena Al-Fatihah itu merupakan bagian dari shalat, begitu juga dengan do’a.
Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“. Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan dan petunjuk-Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga shalat yang berkualitas. Disinilah shalat merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada Allah.

Esensi sabar menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dapat dilihat dari dua hal: Pertama, sabar karena Allah atas apa yang disenangi-Nya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga. Kedua, sabar karena Allah atas apa yang dibenci-Nya, walaupun hal itu bertentangan keinginan hawa nafsu. Siapa yang bersikap seperti ini, maka ia termasuk orang yang sabar yang Insya Allah akan mendapat tempat terhormat.

Betapa kita sangat membutuhkan limpahan pertolongan Allah dalam setiap aktivitas dan persoalan kehidupan kita. Adalah sangat tepat jika secara bersama-sama kita bisa mengamalkan petunjuk Allah dalam ayat di atas agar permohonan kita untuk mendapatkan pertolongan-Nya segera terealisir. Amin

Oleh Dr. Attabiq Luthfi, MA

next page next page close

Tersayat Suara Sirine

Tersayat Suara Sirine

Rasul bersabda,” Sebaik baik pemimpin di antara kalian adalah pemimpin yang mencintai kalian dan kalian pun juga mencintainya. dan seburuk buruk pemimpin di antara kalian adalah mereka yang membencimu dan kalian pun juga membenci mereka. dan patuhlah pada pemimpin selama di masih sembahyang”

langsung melaju melalui jalan pada umumnya. Sepanjang jalan itu ku lihat gak ada bengkel motor, padahal aku sudah ditunggu teman ku. Karena teman ku bilang bersedia menunggu, ku putuskan untuk mencari bengkel ke daerah bawah. melaju di atas motor tanpa mesin, menuruni jalanan yang rame itu, berharap menemukan tempat untuk persinggahan motor, ganti accu. Hingga tiba di persimpangan jalan besar, “Sepi!!”. Pada ke mana orang2?”, gumamku. tanpa pikir panjang langsung ku seberangi jalan besar itu, karena di seberang jalan ku tahu ada bengkel. Dengan pedenya langsung menyeberang. ternyata ku dapati banyak polisi berjajar tdk jauh di depan ku…Ada apa ini???? tanpa menghiraukan, langsung aaja aku masuk ke bengkel itu.. Hanya meninggalkan motor beserta kuncinya, rupanya pak montir sudah tahu apa yg dibutuhkan si motor. kutinggal. tak sengaja ku sapa barisan polisi, dan aku bertanya.. jawab mereka singkat, “ADA RI DUA“, agak lola, tapi aku menyadari klo bakalan ada Wapres yang lewat…

Ku lihat jalanan persimpangan macet total. Ku temui teman ku, kita pun balik arah, karena bisa lewat dari banyak jalan untuk ke Pasar Baru. Oke, lewat jalan Ir. H. Juanda rupanya bisa….. Belum ada 10 menit aku dibonceng teman ku, eh di Ir. Juanda ternyata macet tota juga. bahkan lebih panjang…
terbesit dalam hati, ngerii ngliatnya…

Dari kejauhan ku dengar bunyi sirine mobil di depan ku. keras lagi,”Pasti ini ulah para polisi”. begitu lihat ada arus kecil utk putar balik, aku mengajak teman ku untuk putar balik. tapi musti sedikit jelan ke depan dulu. Semakin ke depan semakin terdengar jelas suara sirine itu.

Di sinilah….. aku baru sadar bahwa bunyi sirine keras tadi adalah bunyi sirine mobil ambulance. Trenyuh lihatnya, sebuah ambulance yang tak bisa berkutik di tengah kemacetan, hanya untuk menunggu lewatnya satu orang. Terlebih lagi aku mulai tersayat, ketika aku dapati mata ini melihat tetesan infus yg ada di dalam ambulance…. ya..tetesan air infus…seketika itu aku ingat akan Almarhumah Nenek ku.. pasti di dalamnya ada orang sakit…. aku gak bisa bayangkan… dengan kerasnya sirine itu, pertanda betapa merintihnya orang yang di dalam ambulance itu… mungkin para medic itu ingin secepat mungkin agar nyawa itu tertolong…

Di manakah keadilan di negeri ini??
Hanya karena satu orang
semua kunci kunci jalan tertutup…
ambulance yang se-darurat itu harus terpaksa menunggu…
bahkan imej ini langsung mengalir,,, bagaimana jikalau yg ada di dalamnya ibu ku yang akan melahir kan ku?? bagaimana jika itu nenek ku yang saat itu butuh suntikan dokter?

Padahal, pengawalan itu saja sudah cukup…
Toh, baru setelah 20 menit penyetopan seluruh arus…
para pemimpin itu baru datang…

Ya, para pemimpin yang seharusnya tahu kondisi masing2 jiwa dan raga rakyatnya…
para pemimpin yang sungguh ironis dengan pemimpin panutan kita…
Rasul SAW yg menyuapi pengemis buta di pinggiran kota, padahal pengemis itu selalu mencercanya…
Abu Bakar yang Ia tidak akan pernah bisa tidur, sebelum malam itu membelanjakan seluruh hartanya untuk memberi makan para rakyat di bawah kolong jembatan
Umar yang tidak berani memakai minyak negara untuk keperluan keluarga

Silakan jika ada pendapat, kritik , atau saran….
Di atas, hanya sekilas yang muncul seketika kejadian siang tadi….
Karena ada hadist di atas itu lah, aku tidak bisa berani bersuara lebih dari ini.

Note by Amiril Pratomo taken from Facebook

next page next page close

LIBUR PANJAAAANG LAH….TAPI JANGAN LUPA INI..

LIBUR PANJAAAANG LAH….TAPI JANGAN LUPA INI..

Mendengar kata libur,,apa yang anda bayangkan….??

Bagi yang masih kuliah atau sekolah,,mungkin akan sangat senang, karena mereka akan rehat dari rutinitas yg cukup menjenuhkan..

Bagi yang jauh dari rumah atau dari keluarga, mungkin ini adalah momen pulang kampoeng dan kumpul kangen2an dengan keluarga, dengan ayah-ibu dan dan adik2nya..

Bagi yang ingin punya penghasilan tambahan, mungkin libur panjang ini adalah waktunya begawe,,waktunya mroyek….

Apa lagi??

Apapun yang kita lakukan untuk mengisi liburan ini,selagi bermanfaat tidak ada yang salah, yang salah kalo diisi sama sesuatu yang ga ada manfaatnya…tapi ada hal-hal yang kadang2 alfa dari kita ketika pulang kampoeng,,,apa itu?izinkanlah saya pribadi mengingatkan pada kawan2 semua, termasuk untuk saya sendiri…

Pertama, birrul walidain. Anak2 yang kuliah atau sekolah jauh dari kedua orang tuanya, hendaknya berpikir bagaimana caranya agar libur ini menjadi waktu yang efektif untuk birrul walidain, berbakti dan menyenangkan kedua orang tua…jangan sampai pulang kita hanya sekedar temu kangen dengan teman-teman lama, kunjungan dan TP-TP alumni ke sekolah, ngasi motivasi ini-itu ke adik tingkatnya, tapi melupakan hak orang tua dan saudara2nya. Jangan sampai ada orang tua kita yang berujar, “ini anak saya pulang kampung atau ga kok sama aja ya,jarang ketemu”. Jangan sampai orang tua kita berkecil hati karena hak beliau2 tidak kita tunaikan..naudzubillah.

Kedua, libur memang mengasyikkan, tapi hati-hati,dari beberapa studi kasus, orang2 yang futur, orang2 yang turun semangatnya, turun kualitas dan kuantitas ibadahnya, dan saya sendiri pernah mengalami,,itu terjadi ketika libur. Karena asyiknya libur shalat berjamaah lewat, tilawah seingat dan kalo sempat, tahajjud sama dhuha,,au dah…akhirnya, semua kebiasaan baik dan semangat beribadah yang sudah dibangun, menguap ketika libur. Akhirnya pas aktifitas rutin dimulai lagi,,mulai membangun semangatnya dari awal lagi….capek kan,,membangun semangat 10 bulan,,hilang di liburan 2 bulan,,trus bangun laghilang lagi,,,.masih ada kerjaan yang lain…
Makanya saran saya,,kalau pun libur,,tetap dijaga semangatnya,,kalau ga bisa menjaganya sendiri,carilah kawan,lingkungan dan orang yang bisa membantu kita menjaga semangat itu, walaupun ketika berlibur…

Ketiga, libur panjang kali ini istimewa Allah menempatkannya. Istimewa dengan ujian di dalamnya..apa itu???RAMADHAN..libur panjang kali ini sangat dekat dengan Ramadhan,,bahkan kalo di kampus tempat saya, kampus Gajah,,kita nemu satu Ramadhan dulu, baru kuliah dimulai,,itu artinya bagaimana bijaknya memanfaatkan libur ini akan cukup menentukan bagaimana keberhasilan kita menjalani bulan mulia Ramadhan. Jika kita habiskan libur dengan sia-sia, bisa jadi kita tidak siap ketika Ramadhan datang dan Ramadhan kita menjadi Ramadhan yang “gitu-gitu lagi”..tapi kalau kita bisa manfaatkan libur ini menjadi bagian dari persiapan Ramadhan kita, semoga kita bisa dalam keadaan siap lahir bathin masuk bulan Ramadhan dan kita benar2 menjalankan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan berhasil keluar Ramadhan dengan predikat Taqwa yang Allah janjikan…amiin

Maka dari itu,,mari kita isi libur panjang kali ini dengan persiapan2 menyambut Ramadhan, persiapan ibadah,,dengan mulia meningkatkan ibadah kita, persiapan fikriyah dengan membaca2 dan mendengar2kan lagi all about Ramadhan dan puasa,,persiapan jasadiyah,,jangan sampai sakit2an di bulan puasa,,dan mungkin juga persiapan maliyah,,,menyiapkan harta yang menjadi modal kita menjalani Ramadhan terbaik..

Segitu saja pengingatnya,,semoga bermanfaat untuk saya dan semua yang baca,,doakan saya juga bisa segera pulang…:)

Note by Adi Putra from Facebook

Hukum Belajar dalam Islam

Hukum belajar ilmu agama yg syumul itu fardhu ain, wajib belajar bagi setiap orang. Tapi...
article post

Antara Cinta dan Es Krim

Beberapa hari yang lalu ada seorang sahabat saya menanyakan tentang cinta kepada saya....
article post

Pacaran yang Syar’i, Mungkinkah???

Diambil dari Rubrik “Ustadz Menjawab” (www.eramuslim.com) yang diasuh oleh Ustadz...
article post

Jadikan Sholat dan Sabar Sebagai Penolongmu

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu...
article post

Tersayat Suara Sirine

Rasul bersabda,” Sebaik baik pemimpin di antara kalian adalah pemimpin yang...
article post

LIBUR PANJAAAANG LAH….TAPI JANGAN LUPA INI..

Mendengar kata libur,,apa yang anda bayangkan….?? Bagi yang masih kuliah atau...
article post

WP SlimStat